SlideShow

0

Harapan Vs Tantangan

Ada 4 lilin yang menyala,

Sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah
percakapan mereka

Yang pertama berkata: “Aku adalah keindahan.” “Namun
manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku
mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Yang kedua berkata: “Aku adalah Kasih Sayang.” “Sayang aku
tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku,
untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara:”Aku adalah
Cinta” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.”
“Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku
berguna.”
“Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang
mencintainya, membenci keluarganya. “
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin
ketiga.

Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan
melihat ketiga Lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh
apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku
takut akan kegelapan!”

Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
Jangan takut,
Janganlah menangis,
selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat
selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:

Akulah H A R A P A N “
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin
Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin
lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah H A R A P A N.
yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita
semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak
tersebut, yang dalam situasi apapun mampu
menghidupkan kembali Keindahan, Kasih Sayang
dan Cinta dengan HARAPAN-Nya
0

Komitmen Wakil Rakyat terhadap regulasi Kesehatan

Tak dapat dipungkiri bahwa masalah kesehatan adalah masalah politik. Makanya, untuk memecahkannya pun diperlukan komitmen politik.

Fran Baum (2008) seorang sosiolog Australia yang juga konsultan kesehatan WHO yang menangani masalah-masalah kesehatan dalam perspektif sosial (social determinant of health), dalam bukunya the New Public Health mengatakan bahwa masalah kesehatan bukan lagi hanya masalah yang berkaitan teknis medis. Sebaliknya, masalah kesehatan sudah memasuki area yang bersifat sosial, ekonomi dan politik.

Namun sayangnya, untuk memecahkan masalah tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Aktor politik kesehatan belum mampu meyakinkan bahwa kesehatan adalah investasi, sektor produktif dan bukan sektor konsumtif. Praktisi kesehatan juga belum mampu memperlihatkan secara jelas yang dapat mempengaruhi para pemegang kebijakan tentang manfaat investasi bidang kesehatan yang dapat menunjang pembangunan negara.

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pemecahan masalah kesehatan tak dapat diselesaikan di bangsal-bangsal rumah sakit ataupun ruang tunggu poliklinik dan puskesmas, melainkan masalah kesehatan harus diselesaikan di kantor departemen kesehatan, dinas kesehatan, kantor bupati/walikota, gubernur dan bahkan yang lebih penting lagi, harus diselesaikan di gedung parlemen, mulai tingkat pusat hingga kabupaten/kota.
Aktor politik yang dimaksudkan adalah presiden, gubernur, bupati/walikota, anggota DPR RI, DPD dan DPRD baik provinsi maupun kabupaten/kota. Untuk mewujudkan visi misi kesehatan Indonesia diperlukan penguatan komitmen politik yang serius oleh aktor politik, baik pusat maupun daerah dari Sabang sampai Merauke.
tulisan di kutip dari Sukri Palutturi