SlideShow

0

Fase yang paling penting untuk membentuk kharakter

Salah satu fase yang akan saya uraikan secara sekilas dalam perjalanan seorang mahasiswa menjadi seorang dokter adalah fase kepaniteraan klinik. Fase yang dianggap paling penting untuk membentuk kharakter seorang dokter. Setidaknya ada dua hal paling penting menurut saya yang harus mereka pelajari pada fase ini yaitu belajar berempati kepada sesama manusia dan belajar untuk tidak membuat kesalahan sekecil apa pun. Ya, karena fase ini mereka akan langsung berhadapan dengan manusia. Kedua mereka tidak boleh membuat kesalahan sekecil apa pun karena ini adalah tentang soal hidup seseorang yang dipercayakan kepada mereka. Disinilah seluruh ilmu dan keterampilan yang telah dipelajari pada saat preklinik diuji.
Kepaniteraan klinik umumnya dilalui selama kurang lebih 2 tahun di rumah sakit pendidikan dan juga rumah sakit-rumah sakit satelit yang menjadi tempat kerjasama universitas. Lamanya tidak sama di setiap fakultas di Indonesia. Kadang-kadang juga bisa molor jika misalnya sang mahasiswa tidak bisa lulus-lulus juga dari satu bagian dan harus mengulang berkali-kali.
Terkait dengan rumah sakit pendidikan, umumnya fakultas kedokteran negeri mempunyai rumah sakit pendidikan sendiri berbeda dengan yang swasta yang kadang-kadang kesulitan mencari rumah sakit yang representatif untuk pendidikan mahasiswanya. Akibatnya banyak diantara mereka yang harus antri menunggu giliran. Dan ini terkadang menambah panjang waktu pendidikan. Walaupun sudah banyak juga fakultas kedokteran swasta besar yang sudah punya rumah sakit sendiri.
Dalam periode ini seorang mahasiswa kedokteran akan berpindah dari satu bagian ke bagian yang lain. Misalnya bagian penyakit dalam, anak, bedah, obstetri dan ginekologi, kardiovaskuler dan seterusnya. Di sana mereka akan belajar bagaimana berhadapan dengan pasien yang sesungguhnya. Jika dulu mereka cuma memeriksa boneka atau orang yang dilatih menjadi pasien, sekarang mereka harus berhadapan dengan orang-orang yang betul-betul sakit. Mereka akan belajar mendiagnosis penyakit, memberikan terapi dan dan memantau perawatannya baik pada pasien rawat jalan maupun rawat inap. Tentunya dengan cara-cara yang empatik dibawah bimbingan dan supervisi dari dokter yang lebih senior atau juga supervisor.
Kegiatan yang mereka lakukan pokoknya sudah seperti dokter sesungguhnya. Memakai jas dokter walaupun tetap ada penanda bahwa mereka belumlah benar-benar dokter. Punya jadwal jaga. Sesi yang paling menegangkan bagi saya pada fase ini adalah bed site teaching, setiap pagi saat visite supervisor seorang mahasiswa harus menceritakan pasiennya mulai dari A sampai Z, diagnosis, terapi hingga pengetahuan lain yang terkait dengan penyakit sang pasien. Sesi ini selalu menegangkan karena saking tegangnya informasi penting tentang sang pasien kadang-kadang terlupa padahal malam sebelumnya sudah dihapal di luar kepala. Alhasil, kadang-kadang kita harus bersiap-siap menerima hukuman, entah nambah waktu di bagian itu atau tugas lain. Selain malu juga kepada kolega lain yang menyaksikannya.
Ada juga tugas lainnya, membuat refarat tentang sebuah topik penyakit atau mempresentasikan jurnal yang terbaru tentang sebuah kasus. Dsikusi dengan para supervisor. Jika masuk bagian-bagian yang ada operasinya seperti bedah, obgyn, mata, THT atau forensik maka kita pun harus ikut menyaksikan operasinya. Diberikan penjelasan tentang prosedur operasi bahkan jika beruntung kita bisa jadi menjadi asisten sang operator. Tergantung kebaikan hati sang operator. Makanya kita harus berbaik-baik pada senior. Mirip-mirip belajar silat. Seorang guru tidak akan mau menurunkan ilmunya pada murid yang agak-agak menjengkelkan, bukan. Hehehe.
Jika anda ingin mendapatkan gambaran, cobalah nonton film “Patch Adam” Robin Williams. Di film ini digambarkan bagaimana para dokter muda berinteraksi dengan pasien di rumah sakit. Kisah dalam film ini juga sebuah kritik bagi untuk dunia kedokteran yang dalam pendidikannya kadang lupa melihat sosok pasien sebagai manusia. Beberapa tokohnya digambarkan hanya fokus pada hal-hal yang bersifat scientifik pada penyakit pasien, pada gejala-gejala empiris saja. Memberikan terapi sesuai dengan tekstbook namun lupa menghadirkan kebahagiaan pada pasiennya. Saya berdoa mudah-mudahan tak ada mahasiswa kedokteran kita yang seperti itu.
Di beberapa negara, seorang mahasiswa kedokteran bahkan pada fase ini sama sekali tidak boleh menyentuh pasien karena dianggap belum punya lisensi. Namun di Indonesia kita boleh berinteraksi dengan pasien sepanjang dalam bimbingan dan pengawasan dokter senior. Makanya di negara-negara lain, terutama negara persemakmuran ada fase internship setelah seseorang disumpah jadi dokter. Mereka harus kembali ke rumah sakit, namun kali ini statusnya sudah jadi dokter. Nah kalau sekarang sudah bisa menyentuh pasien. Di Malaysia contohnya, fase ini sekitar dua tahun. Namun enaknya karena mereka sudah digaji.
Untuk melewati fase ini seorang mahasiswa harus lulus semua ujian pada setiap bagian yang dilewatinya. Umumnya ujiannya dengan menggunakan kasus dan dilakukan secara lisan. Setiap calon yang hendak maju harus mempunyai pasien yang dibuatkan laporan kasusnya. Mendemonstrasikan cara dia memeriksa pasien di depan penguji, menjelaskan hasil-hasil pemeriksaan yang dilakukan, menjelaskan terapi yang diberikan, prognosis penyakit pasien dan pengetahuan lain yang ditanyakan oleh penguji. Setiap akan ujian harapan kita cuma dua, semoga tidak ada yang terlupakan besok dan yang paling penting semoga pengujinya besok malaikat. Hehehe. Bukan penguji killer yang baru bertanya satu pertanyaan langsung mengatakan tidak lulus. Jadi memang dimana-mana faktor keberuntungan sangat berperan.
Bagian yang menurut saya paling susah ujiannya adalah bagian ilmu kesehatan jiwa (Psikiatry). Pasiennya kadang-kadang susah ditebak. Kemarin laporan kasusnya sudah mantap. Semua pertanyaan sudah mengarah ke satu diagnosis yang kira-kira sudah tepat. Namun pas ujian, sang pasien memberikan jawaban berbeda ketika penguji mengkonfirmasi laporan yang kita buat. Atau bungkam seribu bahasa. Dan jadilah ujian hari itu berantakan, kita pun seolah tiba-tiba mengalami gangguan jiwa. Hehehe. Pokoknya menjalani pendidikan profesi kedokteran sangatlah berliku, melelahkan, menegangkan namun juga menyenangkan.
Setelah semua bagian terlewati, tiba saat yang dinantikan yudisium untuk menjadi seorang dokter. Hari seperti itu yang nampak adalah wajah-wajah ceria. Berikutnya mereka akan disumpah. Sumpah hipocrates dan sahlah mereka menjadi seorang dokter. Boleh menaruh singkatan “dr” didepan nama. Tapi apakah mereka langsung boleh berpraktek? Tidak sebelum mereka mendapatkan lisensi. Jika di Malaysia mereka mengenal intership maka di indonesia kita mengadopsi sistem uji kompetensi seperti di Amerika. Ya, agar standar kemampuan pelayanan dokter diseluruh indonesia sama katanya. Ujian ini dilakukan secara nasional oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Suasananya seperti UNAS untuk anak SMA. Tidak lulus berarti mereka belum boleh berpraktek. Harus mengulang ujian setiap 6 bulan sampai lulus. Dan lisensi yang diperoleh pun harus terus diperbaharui seperti SIM setiap 5 tahun. Capek ya jadi dokter masih harus belajar terus.
Setelah lulus ujian kompetensi sebagian besar dokter-dokter baru itu biasanya mengikuti program pegawai tidak tetap (PTT) dari depkes. Waktunya bervariasi dari dua tahun hingga 6 bulan tergantung kriteria wilayahnya. Biasa, terpencil atau sangat terpencil. Dulu hukumnya wajib, jika tidak PTT, seorang dokter tidak bisa menjadi pegawai negeri, mengambil program spesialis atau mendapatkan ijin praktek. Jadi ada pemaksa yang membuat para dokter mau tidak mau harus datang ke tempat-tempat terpencil di pelosok Indonesia. Namun sekarang tak lagi jadi kewajiban hingga banyak dokter lebih suka di tempat-tempat yang nyaman. Atau langsung bersekolah. Akibatnya banyak puskesmas yang sudah mahal-mahal dibangun pemerintah di daerah pelosok tak pernah punya dokter. Utamanya di wilayah timur Indonesia. Sungguh sebuah fenomena yang memiriskan. Akhirnya untuk yang berminat belajar kedokteran semoga informasi ini bermanfaat. Salam dari Sumba.