SlideShow

0

Masyarakat Perlu Sentuhan Dokter Keluarga


KINERJA dokter dinilai belum optimal dan belum ada penyeragaman tarif dokter, sehingga banyak orang takut ke dokter karena tarifnya mahal. Apalagi dokter sekarang terlalu tinggi otoritasnya, hal ini menyebabkan pasien mengikuti apa kata dokter. Hasil wawancara Pengurus IDI.
Menurut Anda bagaimana masyarakat Indonesia dalam menjaga kesehatannya?
Saat ini, rakyat Indonesia masih memerlukan high-touch bukan high-tech dalam bidang kesehatan. Artinya, rakyat kita masih perlu sentuhan dokter, pendekatan sosial dan bukan teknologi yang tinggi. Penyakit yang sering muncul saat ini pun sebenarnya tidak perlu terjadi jika semua orang melakukan pencegahan. Oleh karena itu kehadiran dokter keluarga di tengah masyarakat sangat dinantikan.
Apa bedanya dokter keluarga dengan dokter yang ada di Puskesmas saat ini?
Menurut saya, perancang dari Departemen Kesehatan sering menganggap dokter Puskesmas sebagai superman, serba bisa. Tugas dokter Puskesmas seharusnya membina masyarakat desa dan duapertiga jam kerjanya di lapangan.
Tetapi apa yang sering kita lihat, dalam sehari mereka bisa melayani 150 pasien. Jadi bisa saja pelayanan menjadi tidak berkualitas. Padahal Puskesmas yang berhasil, pasien yang datang sedikit karena masyarakatnya sehat.
Memang idealnya di Puskesmas ada dua dokter dan dokter itu harus melakukan pendekatan sosial. Contohnya, pasien pulang dibekali pengetahuan medis seperti diberitahu cara mencuci tangan yang benar. Kelihatannya sepele, padahal cuci tangan bisa mencegah 10 penyakit.
Tetapi tugas itu kan sangat berat bagi dokter Puskesmas. Oleh karena itu saat ini IDI sedang mengupayakan ada dokter keluarga di tengah masyarakat, yang bisa melakukan upaya promosi dan preventif.
Selain itu, juga akan dirancang tarif dokter yang ideal di masing-masing wilayah sehingga ada pemerataan dokter, karena dokter satu dokter keluarga menjaga kesehatan 2.500 warga.
Mengapa kehadiran dokter keluarga menjadi penting?
Karena belum semua masyarakat masuk asuransi, ongkos berobat masih terbilang tinggi, dan sistem layanan kesehatan pun belum memihak kepada pasien.
Pasien pun sering salah dalam menentukan alamat berobat, sehingga biaya berobat menjadi tinggi meskipun hasilnya pun tidak memuaskan.
Saat ini, sistem layanan kesehatan kita memiliki jalur cepat bagi pasien mampu dan layanan jalur lambat bagi pasien yang tidak mampu.
Pada jalur lambat berlaku aturan sistem rujukan. Artinya, layanan medis berjenjang dari yang paling bawah yaitu Puskesmas sampai ke yang lebih lengkap yaitu rumah sakit.
Pada layanan medis jalur cepat bisa diartikan memasuki industri medis yang sering diikuti dengan tabiat buruk. Pemeriksaan yang saling tumpang-tindih, dehumanisasi layanan, dan peresepan obat berlebihan, merupakan bagian dari pasar medis kalangan orang mampu. Termasuk risiko memasuki wilayah bisnis perumahsakitan.
Melihat kondisi layanan medis seperti itu bagi layanan medis jalur lambat maupun jalur cepat agaknya sama-sama sedang membutuhkan kehadiran dokter keluarga.
Jadi apa fungsi dokter keluarga sebenarnya?
Dokter keluarga akan mengenal betul kondisi medis seluruh anggota keluarga yang dibinanya. Bahkan sejak lahir, lengkap dengan rekam mediknya. Sekarang ini, hampir semua warga tidak memiliki riwayat penyakitnya atau rekam mediknya. Ini juga akan menyulitkan pemberian resep. Jadi, apa pun masalah medik yang dihadapi keluarga, dokter keluarga menjadi tempatnya bertanya, dan sekilgus berobat.
Maka dokter keluarga sudah sangat mengenal setiap anggota keluarga langganannya. Dengan demikian setiap anggota keluarga terjamin akan selalu aman dalam berobat.
Aman karena tidak mungkin dokter yang sudah sangat mengenal pasiennya akan membahayakan diri pasien. Berbeda jika pasien berobat kepada dokter siapa saja atau berganti-ganti dokter atau sebut saja dokter selewat.
Dokter keluarga juga akan lebih hati-hati dalam meresepkan obat atau sesuai dengan riwayat medik pasien. Dia tidak akan memberi obat yang langsung keras seperti dokter selewat, karena setiap hari dokter keluarga akan terus memantau kondisi pasien.
Kalau tidak perlu benar obat, dokter tidak meresepkannya. Berbeda dengan dokter yang tidak biasa menangani pasien tersebut bisa saja memberi obat yang dinilai ces pleng. Itu ibarat mematikan lalat memakai pistol, sia-sia kan?
Dokter keluarga juga yang akan merujuk pasien ke alamat berobat yang paling tepat. Mungkin kepada sejawat yang sudah amat dikenalnya, sehingga komunikasi medis demi kesembuhan terbaik pasien bisa terbangun.
Tanpa dokter keluarga, pasien mungkin salah memilih alamat berobat. Padahal, alamat berobat menentukan tingkat keberhasilan penyembuhan penyakit, selain tidak harus boros, atau mungkin berakhir dengan hasil nihil.
Apakah adanya dokter keluarga dapat mengurangi risiko malpraktik?
Betul. Dokter keluarga, sebagaimana halnya dokter pribadi, selalu siap setiap saat on call sehingga kejadian penyakit gawat tidak akan terlambat ditangani. Adanya dokter keluarga berarti juga akan memberdayakan dokter dan pemerataan tugas dokter.
 

0 komentar: